Pertama kali kenalan dengan JavaScript (JS) itu sekitar tahun 2009, ketika saya masih duduk di bangku kelas 9 SMP, melalui buku saku yang saya sudah lupa judulnya.

Saat itu saya berpikir bahwa JS hanya dipakai untuk sekadar ‘mempercantik’ tampilan website, sebatas membuat deretan tulisan bisa terbang kesana-kemari mengikuti pointer, atau membuat kotak dialog. Hanya itu.

Namun pemikiran tersebut sedikit bergeser ketika saya duduk di kelas 12 SMK, dan mengenal jQuery melalui buku yang dipinjamkan oleh om saya.

Dari buku tersebut saya sedikit banyak belajar mengenai jQuery, tentang bagaimana memanipulasi DOM dan sebagainya, dan saya akui memang sangat bermanfaat, karena web apps yang saya kerjakan untuk kantor juga banyak menggunakan library tersebut.

Peran Komunitas

Selang beberapa tahun kemudian, saya baru ngeh kalau ternyata JS itu tidak melulu tentang jQuery. Ada banyak sekali library dan framework JS di luar sana yang dirilis setiap harinya, dengan berbagai paradigma dan kelebihan yang ditawarkannya.

Ditambah lagi setelah saya bergabung dengan PHP Joglo Raya (meski belakangan ini jarang ikut meetup), sangat banyak ilmu dan wawasan yang didapat. Dari situ saya mengetahui kalau JS tidak hanya dapat berjalan di sisi client melalui browser saja. Lebih dari itu, JS ternyata juga bisa berjalan di mana-mana, baik itu server, client, mobile, bahkan microcontroller!

Mulai Tertarik

Karena tertarik untuk membuat membuat mobile apps dengan menggunakan JavaScript, saya pun mempelajari salah satu framework yang dapat digunakan untuk membangun aplikasi mobile hybrid, Ionic Framework namanya. Dari situ saya dipaksa untuk mempelajari Angular yang saat itu masih pakai AngularJS (versi 1).

Salah satu aplikasi sederhana yang waktu itu saya buat adalah direktori nomor ponsel seluruh pegawai pesantren yang saya beri nama Nopia. Sangat sederhana, namun cukup bermanfaat untuk teman-teman di sini.

Tamparan Keras

Sebuah tamparan keras saya rasakan ketika tidak sengaja membaca status facebook Kang Rahmat Awaludin yang kurang lebih isinya:

“Jadi, ada dua jenis developer JavaScript. Mereka yang paham JavaScript dan mereka yang hanya paham jQuery.”

— Rahmat Awaludin

Posisi saya pada saat itu adalah ketika saya sedang menggunakan VueJS. Melalui status tersebut saya tersadar kalau alasan kenapa saya sering stuck ketika mencoba untuk mempelajari dan menggunakan library/framework javascript di kerjaan kantor adalah karena kurangnya bekal ilmu JavaScript itu sendiri (atau bahasa kerennya: VanillaJS), dan selama ini terlalu mengandalkan jQuery.

Sejak itu saya mulai sadar betapa pentingnya mempelajari dan memahami dasar suatu ilmu sebelum kita mendalaminya.

Penutup

Di postingan ini sebenarnya saya juga mau cerita tentang pengalaman mengikuti freeCodeCamp untuk mengisi waktu liburan kuliah, sambil mengenal JS kembali. Namun karena dirasa terlalu panjang, jadi cerita ini akan saya sambung di beberapa postingan berikutnya. See you.