obat pilek dan batukMenindaklanjuti postingan Gara-gara Susu yang sebelumnya saya publikasikan, kemarin siang akhirnya dengan terpaksa saya mencoba untuk pergi ke klinik Tong Fang untuk menemui Pak Bud (bukan nama perawat sebenarnya) untuk berobat, tentunya. Maka diberilah saya dua lembar barisan tablet yang  terbungkus dalam alumunium foil panjang.

Oh iya, Saya teringat kemarin menulis bahwasannya saya punya rencana akan berenang di hari Jum’at ke Muncul. Namun bukannya ke muncul, renang saya kemarin justru ke Sanjoyo, yang notabene lebih dingin airnya daripada Muncul. Walau bagaimanapun, renang tetap berjalan dengan menyenangkan meskipun ditemani batuk dan pilek.

Kembali ke obat, obat tersebut saya minum siang hari ketika masih mengerjakan proyek website pesanan. Sempat teringat sepotong kalimat dari Pak Bud, “Kalau habis minum obat itu agak ngantuk.”, namun tak saya hiraukan, karena memang hingga 2 jam saya tidak merasakan ngantuk atau efek apapun, paling-paling rasa pahit yang masih tersisa di lidah. Hingga akhirnya waktu itupun berlalu, saya masih tetap mengutak-utik kode, tiba-tiba mata ini terasa berat, dan badan ini juga terasa lemas seperti orang dibius (padahal belum pernah dibius).

Langsung saja, saya matikan komputer, membereskan meja dan jalan dengan cepatnya menuju asrama lantai 2, tempat kamar saya berada. Saya tutup selimut lalu pejamkan mata. Beberapa saat kemudian ada notifikasi e-mail masuk, sayapun terbangun lalu membukanya sambil berpikir “Padahal tadi ngantuk sekali, tapi koq nggak bisa tidur, ya?”. Kaget saya ketika melihat jam yang menunjukkan bahwa jarum pendek menunjukkan ke arah 7 dan terlihat melalui jendela, langit sudah tampak gelap. Gila aja, saya tertidur hingga 3 jam tapi lupa bahwa saya telah tidur. Ah, ini pasti gara-gara obat.