Upil Kering

Sebelum kalian lanjut membaca, saya peringatkan terlebih dahulu bahwa postingan ini agak menjijaykan. Jika saat ini kalian sedang makan atau ngemil, lebih baik habiskan dulu. Dan jika kalian termasuk tipe orang yang ih gak mau, gak suka, gelaaay… mendingan skip aja deh. Terima kasih.

Ketidakberesan

Sekitar awal September tahun lalu, saya merasakan adanya ketidakberesan pada hidung saya. Setelah bangun tidur lubang hidung saya mampet.

Awalnya saya kira hal tersebut karena cuaca di tempat tinggal saya yang cukup dingin. Namun anehnya, hanya satu lubang hidung saja yang mampet. Bukan disebabkan oleh ingus yang creamy, tapi karena kotoran yang sudah mengering (baca: upil kering) memenuhi salah satu lubang hidung, padahal malam harinya saya tidak merasa pilek sama sekali.

Tadinya saya abaikan, tapi semakin bertambahnya hari, kotoran yang ter-generate bertambah banyak meskipun telah berulang kali dibersihkan.

Sebagai gambaran, misal pagi hari menjelang shalat shubuh dibersihkan, nanti sekitar pukul delapan atau sembilan sudah penuh lagi itu lubang hidung, ketika dibersihkan lagi, setelah dhuhur sudah penuh lagi, dan seterusnya sampai malam. Hal tersebut terjadi berulang kali setiap hari. Di samping itu volume kotorannya juga semakin meningkat, serta semakin sulit pula untuk dibersihkan. Pun jika dibersihkan akan meninggalkan darah.

Ketik “1” jika menginginkan kamar luas seperti ini. Foto oleh Terry Magallanes diambil melalui Pexels.

Pulang Kampung

Hal tersebut tetap berlangsung meski saya pulang kampung selama kurang lebih dua pekan, ambil libur + cuti karena istri hendak melahirkan. Tak terhitung sudah berapa banyak teguran yang saya terima dari umi dan juga istri karena kepergok membersihkan kotoran hidung (alias ngupil) sewaktu di rumah sakit. Beruntung karena musim pandemit jadi nggak ada yang namanya salam-salaman.

Bahkan setelah saya kembali ke tempat saya bekerja gejala ini belum juga hilang. Lantas hal tersebut membuat saya berpikir bahwa penyebabnya bukanlah suhu yang dingin ataupun debu, karena di kampung selama dua pekan pun gejala tadi tidak kunjung mereda.

Anggap saja ini kereta buat pulang kampung. Foto oleh Matthew T Rader diambil melalui Unsplash.

Pergi ke THT

Kemudian pada suatu pagi yang cerah, saat sang fajar menyinari dunia, di mana kicauan burung-burung saling bersahutan, saya memutuskan untuk pergi ke Poli THT di salah satu rumah sakit swasta di Salatiga.

Setelah menemui seorang dokter spesialis THT, kemudian menjelaskan kondisi yang saya alami, beliau memeriksa lubang hidung saya dengan seksama, dan membuat kesimpulan bahwa apa yang saya alami ini disebut dengan nasal vestibulitis, bukan sinusitis seperti dugaan saya sebelumnya.

Dijelaskan oleh beliau, nasal vestibulitis ini dapat terjadi karena beberapa sebab, di antaranya:

  1. Hobi mengupil secara ekstrim, upil dikerok menggunakan kuku hingga ke akar-akarnya, subhanallah;
  2. Menghembuskan nafas dengan sangat kuat pada saat pilek, orang Jawa bilang “sisi umbel”;
  3. Hobi mencabut bulu hidung.

Ketiga hal tersebut merupakan beberapa penyebab kemungkinan terjadinya peradangan pada lubang hidung, memungkinkan bakteri jahat bersilaturahmi ke situ, menginfeksi, dan memicu diproduksinya lendir secara berlebih.

Dari ketiga hal yang beliau sebutkan, poin terakhir inilah sepertinya yang paling memungkinkan untuk saya bisa seperti ini, mengingat salah satu kelebihan yang saya miliki adalah kecepatan pertumbuhan bulu hidung.

Sebuah pinset. Foto oleh HeungSoon diambil melalui Pixabay

Treatment

Selanjutnya dokter mengambil tindakan pembersihan, yang diawali dengan mengucap basmalah, menyumbat lubang hidung dengan kapas yang sudah diberi air hangat. Setelah didiamkan beberapa saat, terekstraklah itu kotoran dari lubang hidung lengkap beserta darah-darahnya ketika dicabut.

Berikutnya saya diminta untuk menghirup cairan infus (NaCl) yang disemprotkan ke dalam lubang hidung melalui suntikan, tentu saja ujungnya sudah diganti dari jarum menjadi selang, setelah dihirup kemudian dikeluarkan lagi, persis seperti saat kita ber-istinsyaq ketika berwudhu.

Terakhir, beliau mengoleskan salep menggunakan cotton bud ke dinding lubang hidung yang terluka.

Alhamdulillah, setelah treatment tadi selesai, saya merasakan hidung saya dapat bernafas dengan sangat lega. Susah untuk menceritakan betapa nikmatnya menghirup udara segar secara normal, setelah hampir satu setengah bulan hanya dapat bernafas melalui satu lubang hidung.

Sebelum pulang, saya diberi oleh-oleh dari apotek rumah sakit berupa sebotol NaCl, suntikan, obat, dan sebuah salep, yang kemudian saya gunakan untuk treatment di rumah hingga beberapa hari ke depan.

Oleh-oleh dari apotek rumah sakit. Tidak termasuk teh manis.

Penutup

Dengan seizin Allah, beberapa hari setelah rutin menjalankan ritual treatment secara mandiri sebanyak tiga kali sehari, hidung tidak lagi terasa mampet, bahkan setelah bangun tidur sekalipun.

SepongBob lebaran makan ketupat, semoga postingan ini bermanfaat.

1 Comment

  1. Mesti dihindar ya, korek korek hidung dan cabut bulunya…akibatnya mesti ke THT deh..
    Thank you for sharing your experience 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2021 Miftah Afina

Theme by Anders NorénUp ↑