Setahun Menggunakan Mechanical Keyboard

Sebelum bercerita lebih lanjut mengenai pengalaman memilih dan menggunakan mechanical keyboard atau keyboard mekanik selama setahun terakhir, saya akan sedikit menjelaskan tentang apa itu mechanical keyboard, serta apa bedanya dengan keyboard yang biasa dipakai di kantor dan sekolah-sekolah, yang biasa disebut dengan keyboard rubber dome.

Perbedaan

Sederhananya, pada keyboard rubber dome “alat” yang dipakai untuk mengontrol/menahan tekanan sebuah keycaps (tombol) menggunakan karet berbentuk kubah, sementara pada mechanical keyboard “alat” tersebut menggunakan switch pegas mekanik.

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Membrane_keyboard.jpg
Bagian dalam keyboard rubber dome (via Wikipedia)

Terdapat berbagai jenis switch pada mechanical keyboard yang dibedakan berdasarkan warnanya, seperti: brown, blue, red, dan lain-lain. Perbedaan tersebut dapat dirasakan ketika kita menekan switch, baik itu tingkat penekanan (actuation force), proses menekan hingga tombol mengeluarkan bunyi (tactile), serta berisik atau tidaknya saat ditekan (clicky).

Switch terlihat saat key caps dilepas

Pertimbangan Saya Ketika Membeli

Keyboard yang saya beli adalah merek VortexSeries VX7. Ada beberapa pertimbangan yang akhirnya menjadikan saya memilih keyboard yang satu ini, di antaranya:

1. Merek dan Jenis Switch
VX7 yang saya beli menggunakan switch merek CherryMX dengan jenis brown. Yang mana jenis switch ini aman untuk digunakan saat bekerja di kantor karena meskipun tactile, switch ini tidak clicky, sehingga tidak mengganggu teman sekantor.

Ilustrasi linear, tactile, dan clicky (via gfycat)

Terlebih lagi di bagian bawah keycaps saya tambahkan O-Ring Switch Dampeners sehingga bunyi yang muncul saat kita mengetik menjadi tereduksi.

2. Font pada Keycaps
Mechanical keyboard dengan rentang harga di bawah satu jutaan umumnya menggunakan jenis font “gaming” pada keycaps-nya. Inilah faktor utama yang membuat saya dari awal melirik keyboard ini, karena keycaps bawaannya menggunakan font normal, sehingga cocok jika dipajang di meja kantor.

Font pada keycaps bawaan VortexSeries VX7

3. Layout
Ada berbagai jenis macam layout keyboard mulai dari full-sized (yang memiliki num-pad), Tenkeyless (TKL), 75%, 65%, hingga 40%.

Sebetulnya saya sangat tertarik dengan layout keyboard 65%, karena terlihat cukup compact, tidak makan banyak tempat di meja. Namun, karena faktor kebutuhan pekerjaan, akhirnya saya memutuskan untuk memilih jenis TKL.

4. RGB
Meskipun pada akhirnya fitur ini jarang dipakai, menurut saya memiliki keyboard dengan LED RGB lebih baik ketimbang LED rainbow yang warna LED-nya tidak bisa diubah alias sudah paten.

LED RGB pada keyboard

5. Harga
Untuk mechanical keyboard dengan switch CherryMX, harga yang ditawarkan VortexSeries terbilang cukup terjangkau, yakni 700 ribuan. Harga ini tentunya belum termasuk ongkos kirim, ya.

Godaan Komunitas

Bagian ini kurang penting, tapi saya ingin sedikit bercerita.

Banyaknya merek dan jenis mechanical keyboard yang beredar di pasaran membuat saya bingung pada saat ingin membelinya. Maka dari itu, bergabung dengan komunitas mechanical keyboard di facebook adalah solusinya. Karena di sana saya dapat memperoleh pencerahan dari orang-orang yang sudah lebih dahulu berpengalaman menggunakan keyboard.

Namun, dampak negatif dari bergabung ke dalam komunitas tersebut adalah timbulnya keinginan untuk membeli pernak-pernik keyboard yang sebetulnya nggak perlu-perlu amat, seperti: ganti switch, keycaps, kabel, dll.

Key caps pudding, siapa yang tidak tergoda akan kecantikannya? (via Tokopedia)

Mungkin tidak masalah ketika memang kita mampu, namun akan menjadi masalah ketika kita menuruti “hasrat ingin memiliki” tersebut padahal masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Selama Setahun Terakhir

Hal yang saya rasakan setelah menggunakan keyboard ini setahun terakhir adalah jari lebih nyaman saat mengetik, hal tersebut karena switch CherryMX brown ini terasa lebih empuk.

Mengetik juga bisa lebih cepat dan enteng karena saya tidak perlu menekan switch keyboard sampai ke ujung paling bawah, cukup setengahnya saja sampai terasa “klik” di jari, huruf sudah muncul di layar. Bagusnya lagi, sensasi empuk tersebut masih terasa sama meskipun keyboard sudah dipakai selama setahun.

Kekurangan

Meski memiliki banyak kelebihan, namun keyboard ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa kekurangan yang saya rasakan di antaranya: keyboard ini berat, beneran berat, kemudian keyboard ini juga belum wireless.

Di samping itu, keyboard ini terasa agak tinggi bagi saya. Untungnya, masalah tersebut dapat diatasi dengan cara menambahkan wrist rest sebagai alas pergelangan tangan kita, agar tidak pergelangan tangan tidak mudah pegal saat mengetik. Wrist rest yang dipakai tidak harus mahal, selama ini saya menggunakan buku arisan.

Buku arisan sebagai wrist rest

Terakhir, ketika kita harus bekerja menggunakan keyboard non-mechanical, baik itu keyboard laptop atau keyboard rubber dome milik orang lain, akan ada perasaan kurang nyaman. Namun ini tentunya sangat subjektif sekali.

Penutup

Semoga postingan ini dapat membantu teman-teman yang ingin mencoba atau bahkan beralih ke mechanical keyboard untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

4 Comments

  1. Mantabek

  2. wah jadi tahu bagaimana cara kerja keyboard pada saat ditekan hurufnya

    untuk keyboard yang dipakai sekarang lebih banyak plusnya ya…urusan nyaman emang paling utama saat mengetik, walau masih wireless 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2021 Miftah Afina

Theme by Anders NorénUp ↑