Sejak tahun 2012 saya bekerja di sini, baik di development environment maupun production environment, saya —atau “kami” lebih tepatnya— selalu menggunakan Apache, MySQL, dan PHP yang terbungkus dalam satu sachet dan diberi label XAMPP, yang berjalan di atas sistem operasi Linux.

Barangkali alasan utamanya yakni kemudahan proses instalasi dan konfigurasinya. Bahkan boleh dibilang nyaris zero configuration. Hanya dengan dua perintah singkat, kita semua bani Adam dapat menginstall Apache, PHP, serta MySQL lengkap dengan PhpMyAdmin-nya.

Di samping itu, paling-paling saya hanya akan mengubah konfigurasi pada saat ingin mengubah hak akses atau menambahkan virtual host baru, itu pun dengan menyontek teks pada baris konfigurasi yang sudah ada sebelumnya di file tersebut.

Mulai Akrab dengan Nginx

Setelah beberapa pekan mencoba menginstall dan mengutak-atik Nginx (baca: engine-ex) beserta printilannya di sebuah droplet DigitalOcean, saya makin PD untuk menggunakannya di salah satu virtual server yang dipakai oleh kantor.

Meskipun terlihat lebih ribet jika dibandingkan dengan saat menggunakan apache yang include di dalam XAMPP, tetapi dengan Nginx ada beberapa kelebihan yang saya rasakan.

Salah satu kelebihan yang dapat saya rasakan adalah, —karena dipaksa untuk memasang tiap komponennya satu-persatu secara mandiri— saya merasa lebih “mengenal” server yang saya pakai, serta lebih leluasa untuk memilih dan mengatur sesuai dengan apa yang saya butuhkan.

Mengingat terhitung baru empat bulan saya “akrab” dengan Nginx di lingkungan produksi, jadi saya belum bisa bercerita banyak tentang server HTTP yang satu ini. Namun, di tulisan selanjutnya saya berencana untuk menulis tentang beberapa kendala yang saya temui sewaktu menggunakan Nginx, semoga bermanfaat untuk teman-teman lainnya.


Saya merasa lebih “mengenal” server yang saya pakai.

Miftah Afina