Pertama kali terlintas keinginan untuk memiliki konsol atau handheld Nintendo adalah pada saat perusahaan tersebut meluncurkan konsol terbarunya, Nintendo Switch, di tahun 2017 silam.

Keinginan tersebut semakin menggebu-gebu ketika teman saya membeli Switch di akhir tahun lalu, meskipun hanya bertahan sampai dua bulan sebelum akhirnya ia jual kembali.

VCD Player

Barangkali saya masuk ke dalam kategori generasi yang tumbuh bersama game-game Nintendo. Teringat saat SD dulu, Abah membelikan VCD player Akira yang memiliki kemampuan untuk menjalankan game-game NES. Bahkan dalam paket pembelian disertakan juga dua buah gamepad.

VCD Player Akira yang bisa menjalankan game-game NES

Abang-abang Gimbot

Halaman sekolah TPQ saya dulu sering datang abang-abang yang keliling menyewakan gameboy, dulu kami menyebutnya “gimbot”. Dengan dua ratus atau tiga ratus rupiah kami bisa main sekitar 10 menit. Cukup lah, untuk menghabiskan waktu sambil menunggu ustadz masuk ke kelas.

Uniknya, alih-alih menggunakan timer sebagai pengingat bahwa waktu sewa telah habis, seperti yang umum digunakan pada rental PlayStation, abang gimbot ini menarik kabel dari aki/baterai yang terhubung ke gameboy yang sedang kami mainkan. Bikin kesel kadang.

Sebetulnya bukan hanya Gameboy (grayscale) saja yang disediakan oleh si abang, ada beberapa handheld lain, seperti Gameboy Color dan yang paling ajib pada masa itu, yakni GameBoy Advance (GBA). Tapi, entah kenapa justru Gameboy grayscale-lah yang paling laris disewa. Mungkin karena layarnya lebih mudah dilihat di bawah sinar matahari.

Hampir Disita

Dari ketiga handheld Nintendo yang disebutkan di atas, game-game GBA adalah yang paling sering saya mainkan. Dulu saya memainkannya menggunakan emulator di komputer pentium III yang ada di rumah. Baru setelah kerja dan kuliah saya memainkannya menggunakan emulator di ponsel symbian dan android.

Pernah saat masih duduk di bangku SMK saya kena tegur petugas laboratorium komputer. Flashdisk saya juga hampir disita gara-gara saya dan teman-teman kepergok main GBA menggunakan komputer lab yang waktu itu baru diperbaharui. Sejak saat itu saya berjanji untuk tidak lagi main GBA di dalam lab. ๐Ÿ˜

Kapan-kapan bersambung ke bagian 2