Kalau di postingan-postingan sebelumnya saya lebih sering ngomongin hal-hal absurd atau pengalaman saya seputar programming dilihat dari kacamata saya sendiri, kali ini mungkin akan sedikit berbeda. Karena pada kesempatan ini saya akan coba ngobrol dengan salah seorang teman dari komunitas PHP Joglo Raya.

Mau tau apa aja yang kami obrolin? Langsung aja simak perbincangan berikut.


Bisa tolong perkenalkan diri dulu, mas?

Nama saya Yeri, asli Klaten. Dan kesibukan saya sekarang ini bekerja. Tapi kerjanya di rumah aja. Karena emang kantornya nggak di sini. hehe

Setelah lulus kuliah saya memutuskan untuk bekerja menjadi web developer di JogjaCamp selama 3 tahun, kemudian mulai awal Februari sampai sekarang ini saya bekerja di WhatsHalal.

Kalo boleh tahu, WhatsHalal itu perusahan yang bergerak di bidang apa, sih?

Okay, untuk saat ini WhatsHalal itu bergerak di bisnis delivery makanan halal. Namun, untuk ke depannya kami ingin mengembangkan bisnis kami bukan hanya di bidang makanan saja, tapi juga semua aspek yang berhubungan dengan halal. Kami berencana untuk membuat satu ekosistem yang integrated mengenai apapun yang bertema halal pada skala global. Mulai dari pasokan bahan makanan, peternakan, hingga perkebunan, dan semua itu nanti kami yang kontrol.

Selain bisnis utama tadi, kami juga membuat produk berupa aplikasi scanner halal. Kalau kita bicara di Indonesia mungkin sangat mudah untuk menemukan makanan halal, dan kita tidak dibuat pusing dengannya. Berbeda dengan ketika kita pergi ke luar negeri, misal ke Jepang atau ke negara lain yang mana tempat tersebut merupakan negara dengan penduduk muslimnya sebagai minoritas, kita tidak tahu makanan yang akan kita beli halal atau tidak. Bahkan kalau pun ada label halal itu juga kadang masih diragukan. Karena terkadang ada produk yang sebenarnya mengandung zat yang tidak halal, namun mendapat stempel halal dari pemerintah setempat.

Maka dari itu, kami bikin aplikasi tersebut agar konsumen bisa melakukan scan barcode bungkus makanan saat sedang berbelanja, guna mengetahui status halal tidaknya suatu produk makanan hendak mereka beli. Jika informasi produk tersebut sudah ada di dalam database, nanti bisa langsung keluar hasilnya. Tapi kalau memang belum ada, maka konsumen dapat mengirim daftar ingredients-nya untuk kemudian diproses oleh tim di WhatsHalal. Kurang lebih seperti itu.

Kemudian, untuk operasionalnya sendiri, WhatsHalal sudah sampai di mana aja ini?

Untuk sekarang ini kami baru beroperasi di Singapura.

Oh, jadi WhatsHalal ini perusahaan Singapura?

Yup, WhatsHalal itu perusahaan Singapura, dan didirikan oleh orang Singapura juga.

Saya kemarin sempat buka website WhatsHalal dan menemukan kata “Blockchain”. Nah… saya penasaran nih, implementasi blockchain di WhatsHalal itu seperti apa, sih?

Ada 2 (dua) pemanfaatan blockchain di kami. Yang saya ketahui, WhatsHalal nantinya akan membuat digital currency. Kemudian yang kedua, digunakan untuk menyimpan data di aplikasi mobile scanner itu tadi. Itu aja sih, yang saya tahu. Karena memang implementasi blockchain ini baru sampai pada tahap awal.

Kemudian, ini kan kantornya di Singapura, nih. Terus gimana dong kerjanya? Kan nggak mungkin tuh tiap hari bolak-balik Klaten – Singapura? 

Ya, mungkin aja sih. Tapi mahal. hahaha…

Jadi, kerjanya memang dari rumah (red: remote working). Untuk sistem kontrol agar mengetahui progress kerja dari masing-masing anggota tim, kami menerapkan agile (red: Agile Development Methods). Tiap hari kami ada stand-up lewat video call.

Stand-up gimana nih, maksudnya?

Kalau di konteks agile, stand-up itu pertemuan harian yang dilaksanakan di pagi hari dengan cara berdiri, bukan sambil duduk. Ide dibalik “meeting berdiri” ini adalah untuk mempersingkat waktu meeting itu sendiri. Di pertemuan tersebut kami biasa membahas pekerjaan yang kemarin sudah diselesaikan, pekerjaan apa yang harus diselesaikan hari ini, dan masalah-masalah yang ditemukan di pekerjaan-pekerjaan tersebut. Jadi tiap hari kami bisa tahu progress kami sampai mana, gitu.

Kemudian untuk project management kami pakai GitHub. Itu aja, sih.

The Importance of Daily Stand-up Meetings in Scrum.
Sumber https://www.360logica.com/blog/the-importance-of-daily-stand-up-meetings-in-scrum/

Untuk Mas Yeri kalo gak salah di bagian front-end kan, ya?
Kalo boleh tau, apa saja yang dikerjakan di bagian font-end?

Jadi kalau tim IT kami yang sekarang itu dibagi 2 (dua), yaitu back-end dan front-end. Untuk back-end mereka meng-handle semua yang berkaitan dengan API (Application Programming Interface) endpoint. Sementara itu untuk front-end meng-handle hal-hal yang berhubungan dengan user interface website dan aplikasi yang dipakai oleh customer. Untuk sekarang ini ada 2 platform yang kami kembangkan, yakni web dan mobile. Selain untuk customer, kami juga mengembangkan aplikasi untuk operasional internal atau ibaratnya dashboard administrator.

Lanjut mengenai kerja remote, nih. Suka-dukanya apa aja kerja remote itu?

Waduh. hahaha. Sukanya dulu, ya. Kalo sukanya itu ya kerjanya di rumah. Jadi nggak harus macet-macetan, nggak harus kehujanan.

Suka pakai coworking space juga kalo kerja?

Kadang saya ke sini, ke DILo (Digital Lounge) juga. Sebenernya enak ya di DILo ini, internet gratis, kursinya enak juga. hahaha. Tapi ya lumayan jauh dari rumah.

Lanjut untuk sukanya, karena kerjanya di rumah jadi bisa disambi macem-macem. Tapi ya tetep harus tanggungjawab dengan kerjaan utama kita.

Kemudian untuk duka atau nggak enaknya?

Nggak enaknya mungkin kalau kita nggak bisa mengatur waktu. Kemudian, kerja remote itu kerjanya kan sendirian di rumah, jadi ya kadang kesepian, gitu. 

Terus kan saya tinggal di desa, dan banyak warga sekitar yang belum mengenal apa itu kerja remote, bahkan mereka belum tahu apa itu programmer. Jadi tiap kali saya keluar rumah dan ketemu tetangga pasti ditanyain, “Prei, mas?” gitu. Dikira mereka saya libur setiap hari. Nah, saya mau njelasin ke mereka juga bingung gimana caranya.

Berikutnya, kalo di kantor konvensional misalkan kita ada stuck kita bisa tanya langsung ke atasan, atau temen yang lebih berkompeten. Kalo kerja remote itu gimana? Karena kan nggak tatap muka langsung.

Kalo kita kerja remote juga bisa aja kita tanya-tanya ke temen. Justru ketika ada masalah dianjurkan untuk segera dikomunikasikan, soalnya semakin lama masalah itu dipendam, nantinya malah berimbas pada tim. Jadi, kalau bisa sesegera mungkin dikonsultasikan bareng-bareng di situ. Atau bisa japri juga kalau malu-malu.

Terakhir nih, apa pesan-pesan buat temen-temen yang sekarang lagi kuliah atau belajar programming, dan yang mau terjun ke dunia IT khususnya di bidang programming?

Kalau untuk programming, saran dari saya belajar itu jangan hanya di bangku kuliah. Karena sudah menjadi fakta bahwa apa yang diajarkan di bangku kuliah banyak yang tidak cocok dengan kebutuhan di dunia kerja.

“Hanya berbekal materi yang didapat dari bangku kuliah saja  belum cukup untuk memenuhi persyaratan di dunia kerja.”

— Yeri Pratama

Kasusnya banyak mahasiswa yang lulus tapi (mohon maaf) menganggur, namun di sisi lain banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Salah satu masalahnya ya itu tadi, karena hanya berbekal materi yang didapat dari bangku kuliah saja memang belum cukup untuk memenuhi persyaratan di dunia kerja. Kita dituntut untuk inisiatif, dituntut untuk bisa mengembangkan diri kita. Terlebih lagi di dunia IT perkembangannya sangat pesat, jadi kita harus selalu siap untuk beradaptasi.

Kemudian kalau bisa, kalau masih kuliah dan memiliki banyak waktu longgar, sempatkan waktu untuk bergabung di komunitas. Karena di komunitas kita bisa bertemu dengan banyak orang yang memang memiliki niat untuk saling berbagi, dan kita bisa belajar banyak dari situ.


Well, kayaknya obrolan dengan Mas Yeri Pratama —front-end developer di WhatsHalal— ini saya cukupkan sekian. Terima kasih sudah mau berbagi pengalaman, semoga bermanfaat. Mungkin ke depan kita bakal ngadain obrolan-obrolan lagi dengan temen-temen lain yang saat ini sedang terjun di dunia IT.