Seperti apa rasanya jika ide yang kita sampaikan kepada orang lain justru diklaim sebagai ide milik orang tersebut? Kampret, bukan?

Hal demikian yang sempat terjadi belum lama ini. Kasusnya gini, salah seorang teman meminta pendapat saya untuk suatu hal. Kemudian saya memberikan sebuah ide yang akan ia pakai untuk memudahkan pekerjaannya di esok hari.

Beberapa saat kemudian, datanglah orang ke-3 yang bisa dibilang adalah atasannya. Jadilah dia mendemonstrasikan ide yang telah saya sampaikan tadi kepada atasannya dengan raut muka yang meyakinkan. Bertepatan juga saya berada di ruangan tersebut, teman saya yang satu ini tanpa rikuh mempresentasikannya seolah-olah itu semua berasal dari pemikiran dan alam bawah sadarnya sendiri.

Ingin ku berkata kasar, tapi takut dosa. Saya hanya bisa bernafas seraya memohon kesabaran. Hingga akhirnya saya bermuhasabah ngaca, apakah saya juga pernah melakukan hal demikian?

Dan ternyata jawabannya: “Sering”

1. Mencontek waktu sekolah dulu

Ini parah, dan jangan ditiru. Mencontek merupakan pelanggaran ‘HAKI’ yang seolah-olah sudah lumrah terjadi dalam dunia pendidikan kala itu.

2. Berpendapat berdasarkan buku atau sumber lain (termasuk manusia)

Saat teman menanyakan sesuatu, mungkinkah saya menjawabnya karena memang saya sudah tahu sejak lahir? Tentu tidak, saya menjawab berdasarkan apa yang pernah saya baca, tanpa harus berkata “Menurut buku yang gue baca” layaknya Helen di sinetron Kepompong yang sudah lama tamat itu. Saya juga sering menjawab berdasarkan apa yang orang lain pernah katakan ke saya.

3. Menghilangkan watermark dan tidak menyisipkan ‘source’ pada free image stock.

Sudah dikasih gratisan masih aja ngilangin watermarknya dengan dalih, agar kelihatan lebih bagus. Ini kadang masih terjadi sampai sekarang. hehe 

Saya bingung mau bikin kalimat penutup apa, intinya ya gitu sih.