Sebuah Kilas Balik: Orang Tua dan Pendidikan Anaknya

Biaya sekolah itu emang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana orang tua benar-benar mendukung dan membantu anak-anaknya selama proses menempuh pendidikan di bangku sekolah.

Kilas Balik

Sedikit bercerita pada beberapa tahun yang lalu, waktu itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri (siapa lah saya), selama di bangku SD saya hanya mendapat peringkat 2 dan 3 sebanyak satu kali. Sisanya? Bisa dipastikan peringkat pertama.

But, that’s not the point. Yang membuat saya sedikit merasa ‘ugh’ adalah saya bisa bersaing dengan teman-teman yang saat itu rajin mengikuti les di sore dan malam hari bersama dengan guru-guru favorit. Sementara saya, kondisi finansial keluarga saat itu belum memungkinkan untuk mengikuti les-les atau pelajaran tambahan yang serupa dengan mereka (baca: pas-pasan).

Tapi, kalo dipikir-pikir kenapa waktu itu saya bisa dengan mudahnya mengikuti pelajaran di kelas, menurut saya —dan saya baru menyadari ini tadi malam— di antara faktor pendukungnya adalah sebagai berikut:

1. Buku Pelajaran

Keluarga saya bukan orang ‘punya’ yang tiap kenaikan kelas atau pergantian semester (atau catur wulan saat masih di bangku kelas 1 dan 2) bisa membeli buku paket dengan entengnya. Tapi salut dengan kegigihan ibunda tercinta (baca: umi) yang nggak nyerah dengan keadaan demi mencukupi kebutuhan pendidikan anak pertamanya yang tampan ini. 

Di setiap akhir liburan semester (atau catur wulan) beliau rela menunggangi sepeda phoenix warna birunya berkeliling ke rumah sepupu-sepupu saya, yang usianya 2-3 tahun di atas saya.

Untuk apa? Untuk meminta buku-buku paket dan lembar-lembar latihan (semacam LKS) yang sudah tidak terpakai oleh mereka.

Meski demikian, dulu sempet sebel sama beliau karena buku yang didapat itu penerbitnya sudah pasti beda dengan yang dipakai oleh guru kelas. Namun, tetap saja saya baca dan saya pelajari. Malah banyak item-item penting yang nggak dibahas oleh guru, tapi dibahas di buku saya.

Sempet juga ngrengek-ngrengek minta beli buku paket yang sama persis kayak yang dipakai guru dan teman-teman. Meski akhirnya dikabulkan, saat menulis postingan ini, saya baru sadar betapa ngawurnya sikap saya waktu itu.

2. Kesabaran

Bukan, bukan kesabaran saya yang saya maksud. Melainkan kesabaran dari ayahanda tercinta (baca: abah).

Pernah suatu ketika saya pulang sekolah dan menunjukan hasil ulangan yang nilainya nggak lebih dari angka 20, kalo ga salah pelajaran matematika deh. Persis seusai makan siang di hari itu juga beliau ambil buku, dan mengajarkan apa-apa yang belum saya pahami dari seluruh soal-soal yang diujikan tersebut, dengan cara ‘khas’ beliau.

Betapa banyak orang tua yang hanya menyuruh “Sana belajar yang rajin!” tanpa peduli apa yang sedang si anak pelajari, kesulitan apa yang sedang dialami si anak. Ini sama aja kayak nanyain gebetan “Udah makan belum? Jangan lupa makan ya…” tapi sendirinya gak pernah ngajakin makan bareng.

3. Tulisan

Ini kurang tau termasuk di dalam faktor ato nggak, tapi yang jelas dulu tulisan saya (dan tulisan puluhan teman-teman SD lainnya, barangkali) nggak lebih bagus dari ceker ayam.

Tapi abah sekali lagi, beliau ambil buku tulis kosong menuliskan deretan huruf alfabet di bagian paling atas, kemudian saya diminta untuk menyalinnya pada sisa-sisa baris setelahnya, juga pada halaman-halaman selanjutnya.

Awalnya ini terasa seperti mimpi buruk. Tapi baris demi baris, lembar demi lembar, perlahan tapi pasti, rupa tulisan saya semakin membaik, at least bisa dibaca bahkan oleh kakek saya sekali pun. Juga tulisan saya bisa ada di tengah-tengah ruang antar garis pada buku. Yey… 

Di sini saya kadang​ heran dengan para orang tua sekarang yang ketika mendapati tulisan anaknya hanya bisa mengeluh dan berkata “Tulisan koq kayak ceker ayam! Ga bisa dibaca.”

Akhir

Sebenarnya masih sangat banyak faktor-faktor lainnya, tapi saya raisa rasa kali ini cukup 3 poin dulu yang dibahas. Semoga bisa lanjut di lain kesempatan.

Bersyukur sama Allah karena diberi kedua orang tua yang awesome jiddan, serta bersyukur pula mereka masih diberi kesehatan sampe sekarang. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi para orang tua lainnya yang masih belum menyadari akan pentingnya dukungan mereka kepada anak-anaknya selama menempuh proses pendidikan.

=====

Penting untuk diketahui:
Tulisan ini adalah pengalaman dan pendapat pribadi dilihat dari sudut pandang seorang anak. Dan saat ini saya bukan merupakan praktisi pendidikan, terlebih orang tua. Jadi kalau ditemukan hal-hal yang sedikit ngawur, maapkeun yes… 

5 Komentar

  1. tulisanya bagus gan..
    tapi agak berlebihan pada point pertama
    (…..pendidikan anak pertamanya yang tampan ini. )😀
    semoga varokah 😂

    • Miftah Afina

      27 Mei 2017 at 07:37

      Hal demikian saya sampaikan apa adanya, gan. Sesuai dengan realita yang terjadi. *tsahh

  2. hehe… mana suaranya gan. di inbox ra jawab, arek sibuk cah

  3. Berbicara soal tulisan tangan, saya termasuk orang yang anti menulis pakai tangan. Pasalnya, tulisan saya tidak sekadar jelek, tapi bentuknya aneh. Kalau sekadar jelek sih keren ya, kayak tulisan dokter. tapi kalau saya tulisannya seperti huruf paku, wkwkwkwkwk

    • Miftah Afina

      10 Agustus 2017 at 14:02

      Huruf paku? Berarti lebih dari sekadar keren dong? Malah memiliki nilai seni dan tinggi itu.

Tinggalkan Balasan

Santai saja, alamat email Anda tidak akan saya publikasikan.

*

© 2017 Miftah Afina

Theme by Anders NorénUp ↑