Belum lama ini saya memutuskan untuk mempelajari Ruby di waktu senggang yang saya miliki, meski sebenarnya dulu sudah sempat berkenalan melalui irb, namun saya baru tertarik untuk mempelajarinya sekitar 3 – 4 minggu yang lalu.

Yang membuat saya menunda-nunda dalam mempelajari Ruby adalah:

  1. Isu bahwasannya Ruby ini sudah ‘sekarat’ alias mau mati,
  2. Jumlah questions di Stack Overflow terbilang sedikit dibanding bahasa pemrograman lainnya, terlebih jika dibandingkan dengan JavaScript yang saat ini sedang naik daun,
  3. Komunitas di Indonesia masih sedikit (tidak seperti PHP, tentunya),
  4. Susah mencari hosting yang mendukung. Pernah baca di salah satu forum, katanya Ruby (on Rails) tidak cocok di environment shared hosting karena memakan banyak resource, serta
  5. Anggapan saya pribadi bahwa bahasa tersebut sangat sulit.

Sehingga muncul bisikan dalam hati “Ah, mending nerusin belajar PHP dan Laravel aja deh, kan udah tau basic-nya, tutorialnya lebih banyak tersedia, lebih hire-able, dan lebih banyak juga teman-temannya.” Tapi pada kenyataannya nggak belajar-belajar juga, karena ngerasa udah bisa kali yak? *plakk*

Kemudian, berawal dari buku Learn Ruby the Hard Way ini lah saya memulai petualangan mengarungi samudra. Di buku tersebut dijelaskan mulai dari dasar-dasar Ruby seperti pengolahan string, pembuatan function, class, perulangan, dan sebagainya dengan bahasa yang mudah dipahami. Yang paling menarik adalah pada bagian “Study Drills” yang menuntut kita untuk dapat lebih aktif dan kreatif dalam mempelajari Ruby.

Dalam mempelajari Ruby ini saya juga sekaligus mengasah kemampuan untuk ‘menaklukkan’ Vim, sesepuh para text editor yang awesome banget (kata orang). Konfigurasi vim milik saya dapat dilihat di repositori github.

Itu dulu mungkin yang bisa saya sampaikan, barangkali ke depan saya akan memposting tentang kesan-kesan saya dalam mengenal dan mempelajari Ruby. Sampai jumpa di postingan selanjutnya…