Diam-diam Anu…

Salah satu ‘adat’ atau kebiasaan yang ada di tempat saya bekerja adalah ‘Diam-diam’. Diam-diam lamaran, diam-diam nyebar undangan pernikahan, diam-diam umroh, diam-diam wafat.

Kenapa diam-diam, karena ya emang nggak ngasih tau siapa-siapa, kecuali mungkin hanya atasan dan Allah saja lah yang tahu. Dan lagi, nggak pada upload foto selfie waktu umroh juga di instagram.

Terus gimana bisa tau kalau dia habis umroh? Caranya gampang, jika beberapa hari terakhir dia tidak kelihatan (invisible mode = on), kemudian tau-tau pas nongol eh rambutnya udah gundul atau semi gundul lah minimalnya. 99% bisa diterka dia habis umroh.

Berikut adalah obrolan saya dengan salah seorang teman yang baru selesai umroh. Baru balik ke sini beberapa hari yang lalu.

Ngantre

“Ahlaaaaan….. Gimana kemaren umrohnya?” tanya saya sambil ngarep oleh-oleh. Perbuatan semacam ini nggak patut buat ditiru ya. 

“Alhamdulillah, lancar… Gimana kabar, sehat?” Jawabnya sambil cipika-cipiki dan senyum ramah, tanpa menyadari bahwa pertanyaan tadi adalah sebuah ‘kode’. 

“Sehat, alhamdulillah. Terus gimana di sana ‘laundry’-nya?” saya menanyakan perihal cuci darah yang rutin dia lakukan dua kali setiap pekannya.

“Masya Allah, zeen… Jadi di sana tamu Allah itu benar-benar dimuliakan,” jawabnya.

“Maksudnya?” saya jadi penasaran.

Kemudian dia menjelaskan, “Jadi ana dateng ke mustasyfa (rumah sakit) di Madinah, nunjukkin paspor dan kartu (lupa kartu apaa gitu namanya, pokoknya itu lah). Setelah itu disuruh untuk duduk di kursi tunggu.”

“Nah, nggak lama kemudian ana diminta tuh untuk langsung masuk ke ruang hemodialisa. Sementara di ruangan tunggu itu tadi masih ada orang arab yang sudah antre. Dan otomatis orang tersebut komplain kepada pihak rumah sakit,” lanjutnya.

Kemudian teman saya menceritakan komplain orang arab tersebut, di sini saya terjemahin sekenanya saja apa yang dia sampaikan. hehe 

“Loh, gimana ini? Saya sudah 1 jam nunggu, tapi kenapa orang ini (merujuk kepada teman saya) yang datang setelah saya justru didahulukan?” kata orang arab tadi.

“Dia adalah tamu Allah.” Jawab orang rumah sakit.

Makanan

Setelah masuk ke ruang hemodialisa, teman saya tadi disuguhi makanan yang bisa dibilang ‘wah’, nggak perlu saya sebutkan karena emang saya nggak hafal, tadi. 

Dikasih seperti itu bukannya tambah senang tapi malah bingung. Kemudian dia bertanya kepada bapak perawat yang ada di ruangan tersebut.

Lagi-lagi di sini juga saya terjemahin sedapetnya. 

“Pak perawat, saya ingin nanya. Semua makanan ini untuk saya? Kebetulan saya nggak bawa banyak riyal. Kalau boleh tau berapa ini semua harganya?”

Jawab perawat tersebut, “Betul, ini adalah untuk Anda, untuk tamu Allah. Dan ini semua gratis.”

Yah, kira-kira itu salah satu kebiasaan yang ada di sini. Kalo di tempat kerja kalian, ada kebiasaan unik apa?

3 Komentar

  1. yang dulu kurus, diam diam sixpack @.@ huhu

  2. Diam-diam umroh..? Wah, ini namanya diam-diam mantap!

Tinggalkan Balasan

Santai saja, alamat email Anda tidak akan saya publikasikan.

*

© 2017 Miftah Afina

Theme by Anders NorénUp ↑