Lorong AsramaMalam itu saya tertidur, lelap dengan dinginnya malam. Dan semakin dalam, sayup-sayup mulai terdengar bunyi, yang nampaknya sedikit asing didengar oleh indera ini.

Satu menit-dua menit hingga beberapa menitpun berlalu, mulai mengganggu. Mulailah memutuskan hati saya untuk beranjak dari ranjang, mancari sumber bunyi yang ingin saya selidiki.

Saya datangi salah satu kamar, sumber bunyi tidak berasal dari situ. Akhirnya berpindah ke kamar lain, hingga akhirnya saya menemukan salah seorang bermain ponsel. Sempat sedikit terheran, bermain ponsel di malam hari seperti ini? Apalagi ternyata santri?

Saya tegur anak tersebut. Apa ternyata? Bukan anak tersebutlah bunyi mengganggu itu berasal. Dengan sedikit rasa takut anak tersebut menunjukkan saya suatu tempat yang menurutnya menjadi sumber bunyi yang saya cari. Qodisiyah 4.

Bergegas saya berlari menuju lantai di mana kamar tersebut berada, lantai 3. Ditengah jalan saya sedikit terheran. “Beginikah kondisi lantai tiga?”, sangat jauh dari bayangan yang ternyata sangat tinggi, bahkan terdapat lapangan futsal.

Tak lama setelahnya, saya temui 2 orang penjaga gerbang lantai 3. Pikir saya, ini pasti akan ditanyai macam-macam, karena kedatangan saya yang saat itu kurang lebih pukul 1.30 dini hari.

Sesampainya di blok yang saya cari, karena kurang yakin, saya bertanya ke salah satu gadis kecil, perihal letak asrama Qodisiyah 4. Tidak begitu lama pandangannya mengitari seluruh pintu kamar, jari telunjuk mungilnya mengarah ke suatu titik temu, pintu masuk kamar.

Sedikit perasaan marah yang dicampur dengan penasaran, menyulutkan niat saya untuk membuka pintu dengan sedikit keras. Dan menanyakan “Siapa yang membunyikan ponsel malam-malam seperti ini?”, tak ada yang menjawab. Mulailah rasa marah itu perlahan naik. Namun salah satu anak akhirnya menunjukkan bahwasannya bunyi serupa yang saya dengar, tidaklah lain berasal dari salah satu ruang. Dengan gambaran yang jelas, dia menggambarkan lokasi dimana ruangan tersebut berada.

Langkah kaki ini semakin cepat, dan meningkat. Takut-takut kalau telinga ini kehilangan sumber bunyi yang mengganggu tidur saya tadi. Namun, saya temui keanehan disini, ruangan yang ia tunjuk, tak ubahnya seperti laboratorium komputer saat saya masih SMK dulu. Namun benak saya yakin karena ditambah dengan penjelasan sang anak itu tadi, bahwa itu adalah studio.

Perlahan saya buka pintu, terlihat karpet-karpet melapisi tembok ruang tersebut, yang seolah larut dalam kenangan masa lalu akan dua tempat, lab komputer dan studio milik teman saya.

Ternyata memang inilah yang saya cari, bunyi mengganggu yang bunyinya selalu sama tiap beberapa detik. Oh, ternyata. Teman saya sendiri lah yang jari-jemarinya menari diatas deretan tuts piano. Teguran saya yang berlandaskan alasan, akhirnya membuahkan hasil. Dia pun mau menghentikan jari-jemarinya.

Diajaklah saya ke salah satu ruang, beberapa orang juga terlihat duduk di pinggir-pinggir tembok, sementara saya duduk di tengah mereka, berhadapan dengan teman saya. Betapa senang rasanya setelah sekian lama tidak bertatap muka dan saling sapa. Waktu pun seolah cepat berlalu termakan obrolan dan nostalgia.

Tiba-tiba saya terbangun dari tidur saya, melihat ke home screen ponsel saya, jam masih menunjukkan pukul 2 dinihari. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di kamar ini, yang artinya semua orang masih terlelap dalam mimpinya masing-masing, seperti saya tadi.

Lima-sepuluh detik kemudian, kembali masih saya mendengar bunyi yang mengganggu tidur saya di mimpi saya tadi. Dan dari bunyi yang sama itulah yang membangkitkan kembali semangat saya untuk dapat menemui dan mematikan sumber bunyi yang kurang lebih nyaring terdengar selama hampir setengah jam yang lalu.

Sejenak berdiam dan menutup mata, untuk sekedar menajamkan pendengaran. Terasa bunyi tersebut berasal dari kamar sebelah, namun kembali saya bertanya kepada teman yang sedang terlelap. Ia lalu memantapkan dugaan saya akan sumber bunyi itu.

Keluarlah saya seorang diri dari kamar, menaiki tangga, dan menuruninya lagi (sulit umtuk menjelaskan konstruksi asrama disini), lalu saya masuk ke pintu kamar yang menjadi dugaan saya.

Tengok kanan-kiri seluruh tempat tidur juga tak terlihat tanda-tanda kehidupan. Sesekali bunyi itu muncul, lalu dengan kaki ini memanjat sedikit ke tempat tidur bagian bawah (tempat tidur asrama kami susun dua), akhirnya ditemukanlah sumber bunyi yang mengganggu itu tadi. Ternyata bersumber dari alarm ponsel salah satu santri pengabdian.

Dengan sedikit perasaan tidak enak, saya membangunkan si empunya ponsel tersebut, dan menyarankan agar mematikan alarmnya dan jangan hanya di snooze jika memang tidak menghendaki untuk bangun. Dia mengiyakan terdengar sedikit meminta maaf.

Fyuh… saya pun kembali ke kamar dengan perasaan senang, karena bunyi tersebut sudah tiada. Dan memutuskan untuk menuliskan kisah tersebut di blog saat itu juga, dan apa yang kalian baca sekarang adalah kisahnya.