Niatnya ingin beli dompet, keinginan yang sudah dipendam sejak lama, beberapa hari sebelum kepulangan kemarin. Dan jumat lalu, karena ada suatu kepentingan yang menuntut untuk mengorbankan jam tidur siang saya agar pergi ke Salatiga, mampirlah saya ke salah satu supermarket di kota tersebut.

Ya, meskipun dengan mata panda dan kaki yang berjalan agak sempoyongan, —karena semalam susah tidur dan nonton Dream House hingga tengah malam— satu persatu barisan dompet yang menggantungpun saya amati. Sesekali saya ambil dan buka, siapa tahu ada yang sudah ada isinya (ngarep). Tak lupa juga label harganya saya lihat.

Sebagai catatan, dompet yang ingin saya beli ini merknya sama dengan dompet yang sekarang saya pakai selama kurang lebih sejak 4 tahun yang lalu. Karena mungkin kebiasaan jelek saya, jika telah memilih sesuatu maka menganggap yang saya pilih sekarang adalah baik sedangkan lainnya adalah buruk. Namun, tentu saja dengan harga yang berbeda, dulu masih 49 ribu dan sekarang sudah berganti label menjadi 73 ribu. Padahal beberapa minggu yang lalu, saya lihat di tempat yang sama harganya adalah 69 ribu. *iykwim*

Perhitungan? Nggak juga, karena kebetulan ingat saja.

Habiskan Saja GajimuMerasa belum ada yang sreg, saya lanjutkan langkah kaki saya ke dalam. Terlihat buku-buku tersusun rapi di atas rak dengan berbagai macam kategori. Bisa ditebak, rak yang saya datangi untuk pertama kali adalah kategori Komputer dan Pemrograman. Mungkin lebih dari 15 menit mengitari rak tersebut. Melihat-lihat judul, hingga mengintip sebagian isi dari buku yang telah robek plastik pelindungnya.

Coba tebak, buku apa yang akan saya beli? Jika Anda menjawab “Buku komputer”, maka Anda salah tebak. Buku yang saya beli kali ini ada 2, yakni mengenai Bahasa Inggris, dan satunya yang menurut saya paling menarik. Buku mengenai cara me-manage keuangan yang berjudul “Habiskan Saja Gajimu”.

Walhasil dompet terlupakan, dan buku terbelikan.