hotta zebraSetelah bersama untuk sekian bulan, —sebut saja Tarno— sandal karet kesayangan saya yang telah menemani saya menjalani aktifitas saya sehari-hari itu, hilang. Peristiwa naas itu baru terungkap tatkala hendak turun dari tangga —karena kamar saya berada di blok asrama lantai 2 (dua)— untuk pergi ke halaman depan gedung, dan ingin menggunakan sandal kesayangan saya itu, sama sekali tidak terlihat pada posisi yang sebelumnya saya meletakkan sandal tersebut, karena memang saya sedikit malas untuk membawa sandal saya ke kamar.

Tak terbayang bagaimana perasaan sedih yang mengkudeta hati saat itu. Singkat, pikiran ini melayang-layang ke beberapa bulan silam, mengingat kenangan-kenangan yang dulu pernah kami jalani berdua. Bersama sendal yang jika dilihat akan tampak sekali bahwa pemiliknya (baca: Miftah Afina) telah bersusah payah berkali-kali menjaga agar sendal tersebut tetap terlihat kokoh tanpa terlihat sobek sana-sini, meskipun usaha tersebut juga akhirnya gagal.

Kenangan lain, sandal karet tersebut pernah beberapa kali dipakai untuk keluar kota, Jakarta: ketika ada EXPO di TMII, Bogor: ketika ada Video Journalist Training bersama kru SCTV, Jogja: ketika ada Pameran Komputer di JEC, Salatiga apa lagi (hampir mungkin tiap minggu) ke Mal, Pusat Pertokoan —untuk sekedar melihat-lihat sepatu-sepatu mahal yang dipajang—, Pulang – pergi ke Pemalang, dan masih banyak lagi.

Beberapa alasan  yang melatarbelakangi saya untuk setia pada si Tarno, meskipun sudah ada beberapa penggantinya —yang dibelikan Abah beberapa bulan silam— adalah tak lain karena sandal tersebut sudah mendarah daging, ibarat sepatu, ini adalah sepatu kuda, terus menempel pada pemiliknya. haha

Akhirnya dengan berat hati saya ikhlaskan kepergian sandal tercinta saya itu, terima kasih telah menemani hari-hari saya dengan keindahan dan kekonyolan, semoga engkau kini ada di kaki yang tepat untuk membuka lembaran perjalanan yang baru.

Eh bentar, tapi ada satu lagi, jika pemilik sendal yang bentuknya mirip seperti gambar yang saya cantumkan seperti diatas, dengan ciri-ciri kurang lebih: warna putih sudah agak kekuning-kuningan karena debu, karet bagian atas (baik sandal kanan maupun kiri) sudah sobek separo lebih dan hampir putus, karet bagian bawah juga sobek seperempat, bagian bawah agak bolong-bolong, pada tiap sobekan dan bolongan terdapat bekas lem alteco yang mengeras, dan terdapat tulisan “Afin” berwarna biru agak pudar pada bagian samping kanan sandal, saya berpesan:

“TOLONG KEMBALIKAN, KE MABNA MINA, LANTAI 2, SYUQQOH UHUD NO. 7 !!!”

Miftah Afina