Tiba-tiba dari arah pintu masuk terlihat sosok anak kecil, memecah konsentrasi saya yang sedang memandangi baris demi baris novel karya Dewi Lestari ini, sembari menunggu tumpukan baju kotor yang berputar-putar dalam suatu mesin.

Masuk tanpa permisi dan berkata “Ini dimana?”, menuju pintu keluar sambil menengok kekanan dan kekiri. Tak lama kemudian melemparkan sesuatu yang menggantung ditangannya, sebelum akhirnya terlempar melewati tembok pagar nan tinggi dan saya baru menyadari bahwa itu adalah sandal.

Sudah gila mungkin anak ini, melempar sesuatu ke luar tembok pagar yang kira-kira 5 meter tingginya. Kemungkinan akan perlu waktu lebih dari 20 menit, hanya untuk mengambil sebuah sandal yang berada diluar sana, itupun jika tidak menyangkut di ranting-ranting pohon atau atap rumah diluar, karena tak ada jalan lain, selain keluar melalui gerbang utama yang jaraknya lumayan menguras tenaga untuk anak seusianya.

Tebakan saya adalah, berikutnya pasti akan ada anak kecil menangis sambil membawa orang tuanya menunjukkan lokasi pembuangan sandal oleh temannya tersebut. Seperti biasanya, saya memang suka menerka-nerka. Bahkan adik saya pun hafal akan hal ini, terutama saat menonton FTV di salah satu stasiun televisi swasta.

Namun dugaan saya ternyata salah. Justru lebih heboh lagi, yang datang adalah teman-temannya, menanyakan dimana sandal malang itu berada. Dengan tanpa rasa bersalah si Anak yang melempar tadi mengatakan sambil menunjuk ke salah satu sisi tembok, tepatnya di tumpukan bangku dan meja bekas. Jelas-jelas dia telah berbohong.

Saya biarkan saja, menunggu adegan mereka yang berikutnya. Tetap saja dia berbohong dan terus berbohong. Berbicaralah saya pada salah satu anak dengan jari telunjuk menuju ke arah atas tembok. Mereka pun akhirnya berbondong-bondong ke gerbang untuk keluar melakukan pencarian terhadap sandal yang malang.