Lebih Pintar Ponsel daripada Orangnya

Jadi setelah keluar dari masjid untuk sholat maghrib saya bermaksud untuk menuju ke sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari lokasi masjid tersebut.

Sampai di depan pintu, tepat seperti dugaan saya, minimarket tersebut masih tutup sementara, karena seluruh karyawannya masih melaksanakan sholat. Kebetulan terdapat seorang anak yang sepertinya juga sedang menunggu minimarket tersebut buka.

Sayapun memulai percakapan.
Keterangan :
S = Saya
D = Dia

S : “Masmuk? (Siapa namamu?)”
D : “Mohammed.”
S : “Min en? (Dari mana?)”
D : Sambil tersenyum dia berkata, “Su’udiyyah. (Saudi Arabia)”
S : “Oh, masya Allah.”, diam sejenak lalu sayapun bertanya kembali dengan bahasa sekenanya, “Are you student fil this ma’had? (Apakah kamu pelajar di ma’had ini?)”

Disinilah mulai timbul masalah

D : “Sorry, no speak Injliz. (Maaf, tidak berbicara dengan bahasa Inggris)”

Dia mencoba mengatakan bahwa dia tidak dapat berbicara menggunakan bahasa Inggris. Sejenak berfikir, kemudian saya bertanya kembali, lagi-lagi dengan bahasa yang sekenanya.

S : “Hal anta tilmidz fil this ma’had? (Apakah kamu pelajar di ma’had ini?)”
D : “Laa… (Tidak)”

Lalu dia melanjutkan penjelasannya. Dari kalimat penjelasannya yang panjang tersebut, yang saya tahu dan saya maksud hanyalah dua potong kata “abi (Ayah)” dan “mudarris (pengajar)”, tetapi itu cukup untuk memahami penjelasan tersebut bahwa ayahnya adalah seorang pengajar disini.

S : “Ooh… Masmuhu? (oh, siapa namanya?)”
D : “Abdullah.”

Lalu perbincangan ringan pun berlanjut dengan bahasa saya yang sekenanya, tentunya. Sebelum akhirnya saya ingin bertanya mengenai apa yang akan dia beli. Akan tetapi mufrodat (kosakata) yang terdapat di kepala ini masihlah terbatas.

Akhirnya saya mengeluarkan ponsel dan menuliskan “apa yang akan kamu beli?”, kemudian men-translate-kannya kedalam bahasa dia, lalu saya berikan ponsel itu padanya. Dia pun melihatnya dengan terseyum, kemudian membalasnya dengan menuliskan sesuai dengan bahasanya dan menterjemahkannya kedalam bahasa saya, lalu memberikan ponsel itu kembali. Dari situ saya tahu bahwa dia akan membeli minyak untuk memasak.

Sembari menunggu pintu minimarket buka sekitar 10 – 15 menit, obrolan dengan cara tukar-menukar ponsel itupun terus berlangsung hingga akhirnya beberapa anak kecil terlihat sedang memandangi kami berdua dengan wajah geli mereka.

5 Komentar

  1. Ahahaha..
    Itu anaknya mufad su’udy yg baru ya?

  2. Wahh keren bahasa arabnya jd inget masa smp hehe

Tinggalkan Balasan

Santai saja, alamat email Anda tidak akan saya publikasikan.

*

© 2017 Miftah Afina

Theme by Anders NorénUp ↑