A: “Akalta? (kamu sudah makan?)”
B: “Akaltu. (ya, sudah.)”
A: “*tuut* (menyapa salah satu teman), Ma idam? (lauknya apa?)”
B: “La adri (entahlah), Nggak jelas.”

Lalu dilanjutkan dengan menyebutkan nama-nama sayur dan komposisi lainnya yang ada pada lauk tersebut.

Seperti itulah percakapan yang sering saya dengar semenjak munculnya lauk baru di restoran tercinta di tempat dimana saya bekerja. Alih-alih menjawab nama lauk yang baru saja ia santap, yang ada malah justru menyebutkan satu-persatu nama sayur yang ada pada lauk tersebut.

Ini bukan kali pertama menu nggak jelas muncul di restoran tercinta, dahulu ada juga satu menu yang bahkan hampit kami semua tidak tahu namanya, ditambah rasanya yang kacau. Masih lebih baik ini, kumpulan sayur-mayur, telur, wortel, dan bahan-bahan lainnya yang dicampur menjadi satu, dan tak ubahnya seperti tumpukan sampah. Tentang rasa? Jangan ditanya, tak kalah kacau.

Selidik punya selidik akhirnya telah teridentifikasi bahwa nama lauk yang berupa tumpukan sayur dan bahan lainnya itu adalah Orak-arik.