Melanjut dari postingan kemarin, ada kabar baik yang sebenarnya saya ingin postingkan ke blog 2 hari yang lalu. Akhirnya, sepatu roda tersebut resmi menjadi milik saya, sebelumnya tentu saya izin terlebih dahulu dengan beberapa pihak terkait.

Langsung saja, memakai sepatu roda tidaklah sesulit yang pernah dibayangkan, kita hanya diminta siap untuk sekedar terjatuh ke belakang, terpeleset kedepan, menabrak tembok, jemuran handuk dan sejenisnya.

Bersiap untuk tetap melaju disaat kita menginginkan untuk berhenti, dan bersiap untuk dilihat teman-teman -dengan sedikit malu- yang mana padahal disini masih musim skateboard namun saya nyeleneh sendiri.

Itulah sebabnya saya mengurungkan niat untuk ke selasar kartini Salatiga hari ini. Bukan karena nggak ada ongkos, namun tau diri. Yah, disana banyak anak-anak kecil yang sudah mahir melaju diatas sepatu sejenis ini.

Belum lagi jika terjatuh, susah untuk berdiri kembali, tidak seperti di tempat ini, di lantai dua asrama utama -dengan masih menggunakan baju koko karena baru saja keluar dari masjid- sewaktu-waktu bisa menepi dan memegang tembok untuk sekedar membatalkan bokong ini terjatuh ke keramik.