Siang ini sembari menunggu propagasi DNS, marilah mengingat kembali masa lalu. Masa dimana  saya membuat website untuk pertama kalinya, dan pada waktu itu saya sama sekali belum pernah mengakses Internet dengan menggunakan komputer. Karena memang saat itu di rumah sudah tidak ada komputer lagi. Sebagai catatan, sempat saya (baca: orang tua saya, red) saat kelas empat dahulu memiliki Pentium I namun akhirnya dijual karena beberapa faktor. Lagi pula siapa yang kuat bayar Internet pada masa itu? Internet masih barang mewah dan mahal, provider yang paling terkenal pada masa itu pun hanya satu, Telkom dengan Telkomnet Instannya. Anda tentu masih ingat iklan “08 09 89 empat kali, telkomnet instaant” begitu kira-kira?

Bermula ketika saya membaca sebuah tutorial pada tabloid Pulsa —sekarang sudah menjadi tabloid besar— yang berisikan tentang tata cara membuat website atau lebih tepatnya disebut wapsite. Ya, Abah saya memang dari dulu —kalo tidak salah dari saya kelas 4 atau 5 SD— sudah berlangganan tabloid tersebut. Berbekal ponsel monokrom Siemens A55 yang telah di upgrade firmwarenya menjadi C55, saya membuat wapsite tersebut, saya masih ingat betul layar berwarna orange-nya yang hingga saya masuk ke kelas 1 SMK handhone tersebut masih saya bawa.

Jangan bingung, kenapa koq ponsel monokrom bisa untuk Internet’an? Ya, bisa aja. Dulu ada 2 paket data yang paling terkenal, yakni CSD dan GPRS. Sebelum di upgrade, ponsel ini hanya memiliki akses internet CSD —yang na’udzubullah lemotnya— dan pada akhirnya memiliki akses Internet GPRS setelah di upgrade firmwarenya.

Kembali ke masalah wapsite, halaman wap tersebut berisikan link-link download untuk java game dan ringtone. Oh iya lupa, ponsel Siemens monokrom tersebut juga bisa digunakan untuk mendownload, menginstall dan memainkan game java (hitam-putih tentunya). Sampai saya kelas 7 SMP saya masih rajin meng-update isi link-link download tersebut. Pengunjung? Wapsite tersebut memiliki pengunjung rata-rata 50 orang unik perhari, sebelum akhirnya saya menghapusnya karena beberapa alasan dan masalaj. Dan masalah itulah yang sebenarnya justru memotivasi dan mendorong saya untuk belajar dan berkembang.  Mungkin alasan-alasan tersebut akan saya bahas di lain kesempatan.