Tulisan ini saya buat ketika baru saja selesai membuat postingan berita tentang sebuah acara yang diselenggarakan di yayasan pendidikan tempat dimana saya bekerja. Sebuah tulisan yang bertele-tele dan mungkin lebih tepatnya adalah sebuah narasi.

Tulisan tersebut bermula ketika pagi hari tadi, dimana pagi tersebut adalah acara yang ditunggu-tunggu dan telah di persiapkan dengan matang. Dan merupakan saat yang ditunggu-tunggu pula oleh saya, karena pagi ini saya akan bekerja ke kantor dengan menggunakan sepatu.

Jangan heran, setiap harinya saya (dan orang-orang sini, tentunya) memang terbiasa bekerja di kantor atau kemanapun dengan tanpa alas kaki, maksimal hanya memakai sandal. Dan hari ini, kami semua disini dipaksa untuk menggunakan atribut yang tidak biasanya kami kenakan. Sepatu, baju batik, dan songkok hitam adalah bentuk pemaksaan kehendak tersebut.

Terlebih dahulu, perkenalkan, sepatu yang akan saya pakai kali ini adalah sepatu merek *tuuut* berwarna hitam dengan tanpa tali maupun kreketan. Ya, sepatu tersebut sangatlah praktis. Anda tidak akan tertinggal bis atau kereta ketika keluar dari masjid setelah sholat hanya karena untuk kembali memakai sepatu tersebut.

Namun, yang menjadi permasalahan adalah ketika saya harus menggunakan dua lapis kaos kaki sekaligus alias rangkap agar tak ada celah udara yang memberi jarak antara kulit kaki dengan bahan sepatu. Atau bisa disederhanakan dengan sebuah kalimat ‘sepatu tersebut kebesaran’. Namun, semua kembali normal setelahnya, sebelum akhirnya saya melangkahkan kaki menuju kantor dengan gagahnya dan… setiap kali saya mengangkat kaki, terasa pula akan lepas sepatu saya. Karena tak ada sesuatu yang dapat menahan agar kaki ini bisa menetap di sepatu yang saya beli menggunakan uang pecingan dari Abah pada lebaran kemarin ini. Dan hari ini pun saya jalani dengan lambatnya (dalam artian yang sebenarnya).