Adalah hari ini, malam Minggu (tanpa Miko), 17 Agustus yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Disaat yang lain sedang sibuk memanjat untuk meraih sebotol-dua botol coke ukuran 1 liter, memakan kerupuk yang tergantung dengan terikat tangannya atau berusaha sekuat tenaga menggeser-geser bokongnya kekanan dan kekiri guna memasukkan sebatang pensil kedalam botol Sosro. Ada pula yang melompat-lompat untuk mencapai garis finish dengan bodohnya.

LOGO 68 HUT RI

Logo HUT RI 68

Tak terlihat ada acara serupa disini. Memang ada, kesibukan yang sangat, namun kesibukan itu tak lain adalah untuk menyambut para murid beserta walinya yang baru saja bergabung di lembaga pendidikan ini.

Kontras sekali dengan pemandangan di kampung sana, dimana kain merah putih bekas tahun lalu, dipajang kokoh berdiri diatas bambu yang sebenarnya masih dipakai untuk sanggaan jemuran. Tertancap dengan kokoh dan berkibar di depan-depan rumah dengan terpaksa karena desakan ketua RT dan RW setempat.

Bahkan tanggal ini yang seharusnya libur pun, kami masih tetap berada di kantor dengan sedikit rasa iri dengan pegawai di luar sana yang bebas melenggangkan kakinya karena kalender mereka hari ini berwarna merah.

Dirgahayu Indonesiaku, semoga engkau ‘kan terus maju.